Pada dasarnya aku tidak ada urusannya sama sekali dengan kedatangan Obama. Dia bukan bukan pemimpin negara Muslim dan terutama bukan pemimpin negaraku. Dia tidak menentukan awal bulan Ramadhan, menjalankan pengadilan-pengadilan agama Islam dst.
Aku juga tidak ada kaitannya dengan Hizbut Tahrir atau FUI dan yang sejenisnya yang (selalu) kalo ada sesuatu yang berbau amerika pasti langsung ditolak, dinegasikan, diganyang, dikafirkan bahkan kalo perlu dilaknat.
Aku hanya warga Depok biasa yang karena tinggal di belakang UI dan setiap hari "terpaksa" lewat UI untuk bisa beraktivitas terpaksa mengambil jalur memutar lain yang lebih jauh karena pintu UI di kukusan kelurahan ditutup dari hari Senin sampai Rabu.
Showing posts with label universitas indonesia. Show all posts
Showing posts with label universitas indonesia. Show all posts
Tuesday, November 9, 2010
"Korban" Kedatangan Obama
Monday, October 18, 2010
Kukusan Kelurahan, Dulu dan Kini - 2
Lanjutan dari sini.
Pertama kali pindah ke kukusan dari Asrama, kukusan kelurahan masih sepi sekali. Kos-kosan pun hanya beberapa. Lokasi kukusan kelurahan memang agak kurang strategis kalau dibandingkan dengan wilayah kos-kosan lain. Kukusan teknik nempel dengan Fakultas Teknik, selain deket dengan Fakultas Ekonomi. Kos-kosan di sekitar stasiun UI dan terus sampai Kober adalah pendukung utama Fakultas Ilmu Budaya, Fisip dan Psikologi. Barel dan terus sampai Mahali merupakan pendukung utama Fakultas Hukum dan Psikologi. Kosan sekitar Gundar, Pocin, Karet, Kapuk dan Pinang adalah pendukung utama MIPA, FIK, FKM. Semua kos-kosan di sekitar Margonda mulai dari Kober sampai Karet semua menang strategis di akses Margonda. Berbeda dengan kukusan kelurahan, sudah jauh dari fakultas, jauh pula dari jalan raya. Mahasiswa yang bawa mobil juga sulit kalau mau kos di kukusan kelurahan karena mobilnya harus mutar sampai srengseng sawah.
Karena semua kelemahan kukusan kelurahan itulah akibatnya perkembangan kos-kosan di kukel agak terlambat dibandingkan wilayah kos-kosan lain. Tapi ada juga sisi positifnya. Mahasiswa yang kos di kukel bisa benar-benar merasakan ketenangan, suasana kampung plus keramahan warga setempat dan tarif kos yang relatif lebih murah daripada kawasan lain.
Pertama kali pindah ke kukusan dari Asrama, kukusan kelurahan masih sepi sekali. Kos-kosan pun hanya beberapa. Lokasi kukusan kelurahan memang agak kurang strategis kalau dibandingkan dengan wilayah kos-kosan lain. Kukusan teknik nempel dengan Fakultas Teknik, selain deket dengan Fakultas Ekonomi. Kos-kosan di sekitar stasiun UI dan terus sampai Kober adalah pendukung utama Fakultas Ilmu Budaya, Fisip dan Psikologi. Barel dan terus sampai Mahali merupakan pendukung utama Fakultas Hukum dan Psikologi. Kosan sekitar Gundar, Pocin, Karet, Kapuk dan Pinang adalah pendukung utama MIPA, FIK, FKM. Semua kos-kosan di sekitar Margonda mulai dari Kober sampai Karet semua menang strategis di akses Margonda. Berbeda dengan kukusan kelurahan, sudah jauh dari fakultas, jauh pula dari jalan raya. Mahasiswa yang bawa mobil juga sulit kalau mau kos di kukusan kelurahan karena mobilnya harus mutar sampai srengseng sawah.
Karena semua kelemahan kukusan kelurahan itulah akibatnya perkembangan kos-kosan di kukel agak terlambat dibandingkan wilayah kos-kosan lain. Tapi ada juga sisi positifnya. Mahasiswa yang kos di kukel bisa benar-benar merasakan ketenangan, suasana kampung plus keramahan warga setempat dan tarif kos yang relatif lebih murah daripada kawasan lain.
Sunday, October 17, 2010
Kukusan Kelurahan, Dulu dan Kini
Kukusan kelurahan (atau disingkat kukel) adalah istilah orang UI, mahasiswa, tukang ojek dan warga sekitar untuk menyebut satu kawasan di belakang UI, yang keluar dari arah stadion, sebagai kawasan kos-kosan. Kawasan di situ disebut kukusan kelurahan karena terletak di kelurahan kukusan dan di jalan utama di situ terletak kantor kelurahan kukusan. Pada dasarnya kawasan kos-kosan di kelurahan kukusan ada dua: kukusan kelurahan dan kukusan teknik. Jalan utama kawasan kos-kosan ini adalah Palakali.
Menurut cerita, jaman pertama kali ada UI, sebelum saya pertama kali kuliah di UI, kos-kosan masih jarang di situ. Pemerintah membantu warga sekitar dan mahasiswa dengan membangunkan kos-kosan yang disebut dengan Rumah Petak Tumbuh (RPT). Bentuk dasar RPT ini adalah bangunan kira-kira 10 x 10 meter dengan empat pintu. Di satu sisi dua pintu dan di sisi sebaliknya dua pintu lainnya. Di sampingnya terdapat dua kamar mandi.
Menurut cerita, jaman pertama kali ada UI, sebelum saya pertama kali kuliah di UI, kos-kosan masih jarang di situ. Pemerintah membantu warga sekitar dan mahasiswa dengan membangunkan kos-kosan yang disebut dengan Rumah Petak Tumbuh (RPT). Bentuk dasar RPT ini adalah bangunan kira-kira 10 x 10 meter dengan empat pintu. Di satu sisi dua pintu dan di sisi sebaliknya dua pintu lainnya. Di sampingnya terdapat dua kamar mandi.
Monday, October 11, 2010
Sisi Tersembunyi dari Kampus Universitas Indonesia - 2
Lanjutan dari sini
Setelah melewati sungai kecil kita akan menjumpai jalan setapak kecil. Dulu jalan setapak ini dipaving block dengan rapi termasuk beberapa kursi beton di beberapa tempat sebagai bagian dari hutan kota Wales Barat. Tapi sekarang, hutan kotanya saja sudah begitu liar. Paving blocknya sudah nyaris tidak terasa. Jalan setapak sudah rusak di sana sini. Kawasan ini sudah bukan lagi tempat jin buang anak, bahkan sudah menjadi tempat murderer membuang victimnya.
Siang-siang saja daerah sini sudah sunyi sepi tidak terambah, bahkan oleh penggila sepeda gunung off road pun. Apalagi malam-malam. Jadi inget jaman dulu aku – dengan polosnya – pulang jalan kaki malam-malam jam 10-an dari Pusgiwa (dekat stadion) ke Asrama UI di ujung utara kompleks UI ini lewat kawasan hutan kota ini. Alhamdulillah gak ada apa-apa. Bukan masalah serem hantu (kalo hantu sih, Insya Alloh aku dikaruniai Alloh tidak berbakat melihat yang kayak gitu-gitu). Yang lebih berbahaya justru setan berwujud manusia. Denger-denger jaman dulu sudah ada beberapa korban tukang ojek yang dirampas motornya di kawasan situ.
Setelah melewati sungai kecil kita akan menjumpai jalan setapak kecil. Dulu jalan setapak ini dipaving block dengan rapi termasuk beberapa kursi beton di beberapa tempat sebagai bagian dari hutan kota Wales Barat. Tapi sekarang, hutan kotanya saja sudah begitu liar. Paving blocknya sudah nyaris tidak terasa. Jalan setapak sudah rusak di sana sini. Kawasan ini sudah bukan lagi tempat jin buang anak, bahkan sudah menjadi tempat murderer membuang victimnya.
Siang-siang saja daerah sini sudah sunyi sepi tidak terambah, bahkan oleh penggila sepeda gunung off road pun. Apalagi malam-malam. Jadi inget jaman dulu aku – dengan polosnya – pulang jalan kaki malam-malam jam 10-an dari Pusgiwa (dekat stadion) ke Asrama UI di ujung utara kompleks UI ini lewat kawasan hutan kota ini. Alhamdulillah gak ada apa-apa. Bukan masalah serem hantu (kalo hantu sih, Insya Alloh aku dikaruniai Alloh tidak berbakat melihat yang kayak gitu-gitu). Yang lebih berbahaya justru setan berwujud manusia. Denger-denger jaman dulu sudah ada beberapa korban tukang ojek yang dirampas motornya di kawasan situ.
Labels:
gowes,
makara,
off road,
sepeda,
situ salam,
situ ulin,
ui,
universitas indonesia
Sisi Tersembunyi dari Kampus Universitas Indonesia - 1
Kalau kita membicarakan kampus UI Depok, yang terbayang pertama tentunya sebuah hutan yang ada kampusnya (atau bisa juga sebaliknya sebuah kampus yang ada hutannya). Wilayah yang dikelilingi pagar kuning UI memiliki luas sekitar 300 hektar. Dari luas tersebut hutan mencakup kurang lebih 50%.
Di tengah program perbaikan estetika lingkungan kampus (yang membuat kampus memang terlihat lebih indah daripada 10 tahun lalu) ternyata hutan kota UI menurut saya malah tambah liar (setidaknya dibandingkan 7 tahun lalu waktu saya masih bujangan dan masih sering jalan-jalan di hutan UI). Kalau dulu saya masih sering melihat anak-anak dan orang tuanya atau dua sejoli yang sedang berjalan-jalan di tengah hutan, maka sekarang saya hanya menemukan beberapa orang pemancing dan goweser yang terobsesi dengan lintasan off road.
Di tengah program perbaikan estetika lingkungan kampus (yang membuat kampus memang terlihat lebih indah daripada 10 tahun lalu) ternyata hutan kota UI menurut saya malah tambah liar (setidaknya dibandingkan 7 tahun lalu waktu saya masih bujangan dan masih sering jalan-jalan di hutan UI). Kalau dulu saya masih sering melihat anak-anak dan orang tuanya atau dua sejoli yang sedang berjalan-jalan di tengah hutan, maka sekarang saya hanya menemukan beberapa orang pemancing dan goweser yang terobsesi dengan lintasan off road.
Labels:
gowes,
makara,
off road,
sepeda,
situ puspa,
situ ulin,
ui,
universitas indonesia
Friday, October 1, 2010
2032 Formula 1 UI Indonesian Grand Prix (UI)
Saya berimajinasi bahwa judul di atas akan masuk dalam kalender Formula 1 tahun 2032.
Mengapa? Mungkin karena saya tiap hari melewati jalan-jalan di Kampus UI Depok dan (masih terus) terpesona dengan perkembangan infrastrukturnya yang lumayan (setidaknya dibandingkan jaman saya kuliah S1 di UI dulu yang - bahkan - nyaris diputus listriknya oleh PLN karena nunggak bayar listrik). UI seolah-olah seperti tidak kekurangan dana. Teruuus membangun. Belum selesai satu proyek sudah dimulai proyek yang lain.
Dan karena juga hobi Formula 1, maka imajinasi saya tentang UI pun melebar ke F1.
Mengapa? Mungkin karena saya tiap hari melewati jalan-jalan di Kampus UI Depok dan (masih terus) terpesona dengan perkembangan infrastrukturnya yang lumayan (setidaknya dibandingkan jaman saya kuliah S1 di UI dulu yang - bahkan - nyaris diputus listriknya oleh PLN karena nunggak bayar listrik). UI seolah-olah seperti tidak kekurangan dana. Teruuus membangun. Belum selesai satu proyek sudah dimulai proyek yang lain.
Dan karena juga hobi Formula 1, maka imajinasi saya tentang UI pun melebar ke F1.
Labels:
asrama,
balairung,
f1,
feui,
formula 1,
gerbatama,
hollywood,
makara,
mang engking,
sirkuit,
ui,
universitas indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)