Jakarta dan sekitarnya telah berkembang menjadi megapolitan. Persis seperti pola perkembangan megapolitan yang saya pelajari di geografi SMA. Daerah pusat bisnis di tengah-tengah, kemudian ada pemukiman kelas atas di dekat pusat (menteng, pondok indah, permata hijau, kelapa gading), kemudian dikelilingi oleh kawasan industri (pulogadung, jalan raya bogor dll), kemudian dikelilingi lagi oleh pemukiman menengah ke bawah (bekasi, depok) yang diselingi juga dengan kawasan industri (jababeka, karawang dll) kemudian ditutup tempat tetirah (bogor, bandung).
Keadaan seperti itu menuntut sistem transportasi umum yang nyaman, ramah dan terintegrasi. Celakanya, sistem itulah yang tidak dimiliki Jakarta dan sekitarnya. Akibatnya semua orang berlomba memakai kendaraan pribadinya masing-masing. Yang kalangan atas menggunakan mobil mewah lengkap dengan sopir dan kadang fore-rider. Yang menengah pakai mobil atau motor. Yang kalangan bawah dengan motornya. Akhirnya ya, macet. (Oleh karena itulah sebenarnya kunci pemecahan macet di Jakarta ya pada angkutan massalnya. Cukup itu saja)