Gerhana bulan kemarin aku nggak nonton. Pulang kantor jam 5-an sore sih masih semangat mau nonton. Maghrib ke mushola bareng anak-anak ngeliat ke langit… mendung. Tapi masih berharap semoga nanti malam terang. Isya masih mendung juga, mulai khawatir sedikit. Abis isya tidur sebentar. Bangun-bangun jam 9, masih mendung juga. Mulai desperate. Ditungguin sampai jam 11 masih mendung juga. Akhirnya langit kutinggalin dan tidur sampai pagi. Peduli amat sama langit yang lagi gak bersahabat.
Aku tambah sebel ama langit kotaku pas kemarin sabtu aku mudik ke Jawa Timur. Ternyata di sana langit cerah. Dan memang setiap hari cerah. Bahkan waktu balik ke Jakarta di perjalanan aku masih sempet liat dari jendela bisku bahwa di Jawa Tengah langit juga cerah. Kayaknya emang cuma di kotaku aja yang langitnya doyan banget mendung. (Soalnya mendungnya emang cenderung persisten tiap malam, gak cuma malam gerhana kemarin) Aku jadi tambah semangat buat balik kerja di kampung suatu saat nanti.
Showing posts with label crescent. Show all posts
Showing posts with label crescent. Show all posts
Friday, June 24, 2011
Thursday, November 18, 2010
Kekeliruan Klaim Bid'ah yang dibuat oleh Fanatikus "Chaliphate-Obsessed-Party"
Saya menerima forward-an tulisan yang kalau melihat tulisan di bawahnya sepertinya ditulis oleh seseorang bernama Adi Victoria. Tulisan itu saya anggap meresahkan karena membid'ahkan orang yang beridul adha tanggal 17 November. Dari gaya penulisannya bisa ditebak dari kelompok mana dia berasal. Sebenarnya saya malas menanggapi, tapi karena adanya permintaan dari beberapa teman akhirnya saya buatkan komentar atas tulisan tersebut.
Adi Victoria berkata:
Para ulama mujtahidin telah berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk Idul Fitri. Madzhab Syafi’i menganut ru’yat lokal, yaitu mereka mengamalkan ru’yat masing-masing negeri. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganut ru’yat global, yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum Muslim. Artinya, jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat itu berlaku untuk seluruh kaum Muslim sedunia, meskipun mereka sendiri tidak dapat meru’yat.
Namun, khilafiyah semacam itu tidak ada dalam penentuan Idul Adha. Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.
Komentar:
Adi Victoria berkata:
Para ulama mujtahidin telah berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk Idul Fitri. Madzhab Syafi’i menganut ru’yat lokal, yaitu mereka mengamalkan ru’yat masing-masing negeri. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganut ru’yat global, yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum Muslim. Artinya, jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat itu berlaku untuk seluruh kaum Muslim sedunia, meskipun mereka sendiri tidak dapat meru’yat.
Namun, khilafiyah semacam itu tidak ada dalam penentuan Idul Adha. Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.
Komentar:
Wednesday, November 17, 2010
Hilal Global dan Hilal Lokal Mungkinkah Disatukan?
Sewaktu menulis postingan sebelum ini, sempat terpikir juga, kalau aku sudah bisa menganggap sinkron pendapat yang menyatakan idul adha ikut Saudi dan idul adha berdasarkan rukyat lokal, bagaimana kalau aku mengembangkan tema ke yang lebih besar lagi, yaitu bagaimana mensinkronkan konsep hilal global untuk dua hari raya (dan tentunya untuk bulan-bulan hijri lain) dan hilal lokal.
Pada postingan sebelum ini aku menyatakan bahwa sejatinya tidak adanya khilaf antara yang mengatakan harus mengikuti Saudi dan yang mengatakan rukyat lokalnya. Jika diurut-urut ke kasus yang lebih umum sebenarnya aku hendak mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hilal global dan hilal lokal. Pernyataan tersebut setelah saya pikir-pikir di satu sisi memang benar, dalam arti konsep teoritisnya memang mungkin bagi kedua pendapat itu untuk disinkronkan. Namun, untuk menuju sinkronisasi tersebut perlu beberapa prasyarat, antara lain (yang terlintas di pikiranku sekarang ini):
Pada postingan sebelum ini aku menyatakan bahwa sejatinya tidak adanya khilaf antara yang mengatakan harus mengikuti Saudi dan yang mengatakan rukyat lokalnya. Jika diurut-urut ke kasus yang lebih umum sebenarnya aku hendak mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara hilal global dan hilal lokal. Pernyataan tersebut setelah saya pikir-pikir di satu sisi memang benar, dalam arti konsep teoritisnya memang mungkin bagi kedua pendapat itu untuk disinkronkan. Namun, untuk menuju sinkronisasi tersebut perlu beberapa prasyarat, antara lain (yang terlintas di pikiranku sekarang ini):
Tuesday, November 16, 2010
Kesalahan Pendapat Idul Adha di Indonesia 16 November
Secara eksplisit saya sebutkan bahwa trigger penulisan posting ini berasal dari tulisan salah satu saudara saya Abul Jauza di blognya (linknya ini). Dalam tulisannya, ustadz Abul Jauzaa mengeluarkan segenap jurus-jurus tenaga dalamnya yang kesimpulannya puasa Arofah di Indonesia dilaksanakan pada hari senin tanggal 15 November dan Idul Adha di Indonesia (seharusnya) dilaksanakan hari selasa tanggal 16 November.
Pembahasan serupa dibahas di blog salafyitb, blog ustadzaris dan blog rumaysho.com. Berbeda dengan blog Abul Jauzaa, blog-blog yang saya sebutkan terakhir ini umumnya mengutip pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin yang berpendapat bahwa Idul Adha (dan puasa Arofah) mengikuti terlihatnya hilal di negeri masing-masing.
Perbedaan pendapat mengenai hal ini memang lumayan “seru” di kalangan penuntut ilmu. Apalagi karena ulama-ulama terdahulu umumnya jarang membahas mengenai waktu puasa Arofah dan Idul Adha ini. Pembahasan-pembahasan yang ada di kitab-kitab mereka umumnya hanya mengenai perbedaan hilal Ramadhan dan Syawwal.
Pembahasan serupa dibahas di blog salafyitb, blog ustadzaris dan blog rumaysho.com. Berbeda dengan blog Abul Jauzaa, blog-blog yang saya sebutkan terakhir ini umumnya mengutip pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin yang berpendapat bahwa Idul Adha (dan puasa Arofah) mengikuti terlihatnya hilal di negeri masing-masing.
Perbedaan pendapat mengenai hal ini memang lumayan “seru” di kalangan penuntut ilmu. Apalagi karena ulama-ulama terdahulu umumnya jarang membahas mengenai waktu puasa Arofah dan Idul Adha ini. Pembahasan-pembahasan yang ada di kitab-kitab mereka umumnya hanya mengenai perbedaan hilal Ramadhan dan Syawwal.
Friday, October 1, 2010
Dari Ibrahim Sampai Lambang Bulan Bintang
Ayat Surat Al An'aam yang menceritakan mengenai Ibrahim menyebutkan mengenai 3 obyek yang sempat dianggap sebagai tuhan oleh Ibrahim: bintang, bulan dan matahari. Maksud pasti dari penyebutan tiga oknum tersebut hanya Alloh yang tahu.
Kalau kita lihat pada sejarah Nabi-Nabi. Ibrahim atau Abraham berasal dari wilayah Mesopotamia yang sekarang masuk wilayah Irak. Ibrahim dalam Al Qur'an digambarkan berkonflik dengan Namrudz atau Nimrod menurut orang barat. Nimrod sendiri merupakan salah satu raja dari Babilonia.
Kepercayaan Babilonia saat itu termasuk dalam kategori kepercayaan kuno semitik yang menyembah banyak dewa antara lain yang utama adalah:
Kalau kita lihat pada sejarah Nabi-Nabi. Ibrahim atau Abraham berasal dari wilayah Mesopotamia yang sekarang masuk wilayah Irak. Ibrahim dalam Al Qur'an digambarkan berkonflik dengan Namrudz atau Nimrod menurut orang barat. Nimrod sendiri merupakan salah satu raja dari Babilonia.
Kepercayaan Babilonia saat itu termasuk dalam kategori kepercayaan kuno semitik yang menyembah banyak dewa antara lain yang utama adalah:
Labels:
ancient egypt,
bulan bintang,
crescent,
dewa,
freemasonry,
ibrahim,
mason,
mesir kuno,
namrudz,
star,
symbolism
Subscribe to:
Posts (Atom)