Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Wednesday, September 7, 2011

Fragmen dari Kos-Kosan Jalan ST

Lebaran kemarin – seperti biasa – aku mudik ke Banyumas. Kesempatan mudik kali ini aku gunakan untuk mengaduk-aduk arsip lama jaman SD, SMP, SMA. Sudah banyak arsip yang hilang atau rusak dimakan kutu buku. Tapi dari sebagian yang tertinggal pun sudah mampu membuatku cengar cengir sendiri.

Salah satunya aku menemukan naskah drama yang disusun berdasarkan kisah nyata kejadian pada suatu hari bulan Ramadhan di kos-kosan jalan ST (pas aku SMA). Nama tokoh dan kejadian dalam fragmen ini adalah nyata. Hanya saja bahasanya sudah ditranslate dari Bahasa Banyumas ke Bahasa Indonesia. Buat tokoh-tokoh yang terlibat dan kusebutkan di sini – di mana pun anda berada, silakan mengenang masa ini.

Untuk memperjelas cerita aku memberi tambahan-tambahan seperlunya dari teks asli yang ditulis dengan warna font yang berbeda. Nama salah satu tokoh diubah dari teks aslinya karena di teks aslinya yang digunakan adalah nama julukan yang sudah tidak sepantasnya lagi digunakan. Selain itu aku melakukan penyempurnaan tanda baca juga.

-------------- awal kutipan-------------

Tuesday, June 14, 2011

Emang Perempuan Lebih Banyak dari Laki-Laki?

Salah satu senjata yang digunakan oleh orang yang berlebih-lebihan membela poligami adalah klaim bahwa saat ini jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki. Kadang, mereka bahkan sampai berani mengatakan memiliki “data-data” bahwa jumlah perempuan jauh lebih banyak dari pada laki-laki.

Entah dari mana mereka mendapat “data” itu. Tapi yang jelas sampai saat ini secara global jumlah perempuan dan laki-laki masih bisa dibilang seimbang. Silakan dicek di www.cencus.gov atau di data CIA. Memang ada variasi antar negara dan wilayah, namun secara umum jumlahnya tetap seimbang. Untuk Indonesia silakan dicek ke BPS.

Mungkin ada yang membantah bahwa semua data di atas banyak menyertakan asumsi dan tidak aktual. Saya katakan bahwa lebih baik memiliki data yang, walaupun tidak aktual, namun memiliki metodologi perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, daripada tidak memiliki data sama sekali atau memiliki data tapi tidak dihitung secara ilmiah.

Friday, June 10, 2011

Perjalanan Ini … (additional version)

Pertemuan (dan perjodohan) adik perempuanku dengan suaminya sekarang sebenarnya lebih pantas diceritakan oleh yang bersangkutan. Dan suami adikku memang telah menceritakannya di blognya di sini dan di sini. (Tulisan di situ perspektifnya masih sebagai calon suami ya)

Di tulisan adikku (untuk selanjutnya adik iparku aku sebut adik saja), yg berasal dari chatting denganku, cuma diekspos sisi apa yang terjadi pada saat pertemuan pertama dan hikmah yang ada bahwa sesuatu yang nyebelin belum tentu buruk untuk kita.

Namun sebenarnya ada versi lain jika dilihat dari sisi pandangku yang lebih luas dibandingkan apa yang dichattingkan dengan adikku itu. Karenanya, aku tergoda juga untuk membuat sedikit cerita mengenai episode pertemuan (dan kemudian perjodohan) mereka.

Monday, June 6, 2011

Tempat Pe-naroh-an Anak

Umur berapa seorang bayi mulai dianggap “besar”? Kalo pertanyaan ini ditanyakan 30 tahun lalu, jaman saya masih bayi, mungkin jawabannya akan bervariasi mulai dari 1 tahun sampai 5 tahun. Variasinya tergantung orang tua. Kalo orang tuanya model ibuku yang protektif, posesif dan if if lain, maka sampai 5 tahun mungkin baru dibilang besar dan baru dilepas untuk di-momong orang lain atau saba sendiri. Tapi kalo orang tuanya model ibunya istriku, ya mungkin 1 tahun sudah dianggap gede dan sudah dilepas saba sendiri.

Tapi kalo pertanyaan “umur berapa bayi sudah dianggap ‘besar’” ditanyakan sekarang, maka jawabannya akan seragam: “dua bulan setelah lahir”.

Saturday, February 12, 2011

The Last Roommate of Adjie Massaid

Kronologi kematian Adjie Massaid, kisah dibaliknya, berita mengenai keharuan orang-orang terdekat dan semacamnya sudah banyak diliput media. Dalam blog ini saya tidak akan menceritakan segala macam keharubiruan itu. Saya hanya akan menceritakan sisi terlupakan (dan tersisihkan) dari kisah akhir hidup Adjie Massaid tersebut, yaitu teman sekamar Adjie Massaid yang terakhir sebelum secara resmi dinyatakan meninggal dunia oleh para Dokter.

Teman sekamar Adjie itu bernama Samsurizal (panggilannya Bang Suri), tetangga saya sesama warga RT 4 RW 7 Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok. Dia menjadi teman sekamar Adjie Massaid di… Instalasi Gawat Darurat RSUP Fatmawati. Menjelang meninggal, Adjie memang dibawa ke instalasi gawat darurat RSUP Fatmawati.

Bang Suri ini masuk IGD Fatmawati kalau tidak salah siang hari pada hari jumat sebelum Adjie Massaid meninggal. Penyakit yang diderita Bang Suri ini adalah pendarahan otak. Adjie Massaid masuk pada malam harinya.

Begitu Adjie Massaid masuk, ruang IGD yang tadinya sepi langsung mendadak ramai. Istri Bang Suri yang menunggui suaminya yang tidak sadar di IGD langsung bingung. Perawat-perawat dan petugas-petugas lain langsung beralih perhatiannya ke Adjie Massaid. Bang Suri yang masih setengah sadar dan istrinya pun terpaksa menyingkir ke pojok IGD. Mereka hanya berdua saja sendiri di pojokan memandang segala hiruk pikuk dokter, perawat, pengawal pribadi dan petugas-petugas lain yang banyak mondar-mandir di IGD dengan sikap sok pentingnya.

Monday, February 7, 2011

All the Rivers Run

Minggu kemarin dua kali aku membuat status Facebook dengan tema All the Rivers Run. Pertama waktu mencari soundtrack All the Rivers Run dan kedua waktu share opening All the Rivers Run.

Buat yang belum tau atau belum ingat All the Rivers Run, maka sedikit saya jelaskan di sini bahwa All the Rivers Run adalah sebuah miniseri Australia yang ditayangkan TVRI sekitar tahun 1991 pada malam hari setelah Dunia dalam Berita (dan kalau nggak salah kemudian digeser lebih malam dari itu).

Waktu tayang pertama kali aku masih kelas 4 SD dan tamat waktu aku sudah di kelas 5. Miniseri itu satu di antara sedikit miniseri dewasa yang menghiasi masa kecilku. Sebagaimana telah diceritakan di blog ini juga, bahwa aku sudah berkenalan dengan kisah-kisah romantis sejak kecil, maka aku pun jadi lebih menyukai miniseri ini dari pada film-film anak-anak waktu itu macam unyil, dan rela untuk tidur lebih malam untuk menontonnya.

Wednesday, December 15, 2010

Kisah Pernikahanku yang Luar Biasa

Aku menikah sudah 7 tahun yang lalu. Anak pun sudah lahir dua. Tapi keindahan kenangan masa itu seolah takkan pernah habis dibagikan ke seluruh dunia.

Aku menikah pada tanggal 7 bulan 7 tahun 2003. Sebelumnya kuceritakan sedikit latar belakang sebelum pernikahanku.

Sejak akhir 2000, practically aku relatif sudah mulai self sufficient. Penghasilan dari mengajar di kampus, mengajar tahsin dan beasiswa sudah mencukupi untuk kebutuhanku. Lumayan tempting juga untuk mulai memikirkan menikah. Teman-temanku (khususnya para ikhwan) pun sudah memprovokasi terus menerus agar aku menikah. Tapi akhirnya aku berhasil mengatasi semua godaan. Aku kembali strict ke jadwal, mengedepankan akal dibandingkan godaan. Masih banyak yang harus aku lakukan agar istriku nyaman berada di sisiku.

Kalo Terry (Therius Graham Grandchester – true love-nya Candy) bertekat tidak akan mencintai seseorang seperti ayahnya, maka aku bertekat tidak akan mencintai seseorang seperti Terry. Berulang kali Terry menyesali ketidakmampuannya untuk “membawa” Candy dan hidup berdua. Kelemahan itulah yang akhirnya membuat semua pihak, baik Terry, Candy maupun Suzanna menderita. Aku tidak mau seperti itu.

Wednesday, October 20, 2010

Anakku Gak Mau Masuk Surga??

“Mas it mau di rumah aja. Gak mau masuk surga. Rumahnya Mas it kan bagus.” Begitu Zaid berkata suatu hari ke istriku (Zaid dipanggil Mas it di rumah).

“Nan gak au acuk uga.” Inan (yang selalu niruin setiap kata kakaknya) ikut-ikutan ngomong.

Gawat, pikirku ketika bundanya zaid cerita omongannya zaid itu. Analisis spontan kami mengapa zaid ngomong seperti itu kayaknya karena dia takut pada kematian. Pernah memang dia meyakinkan ke kami orang tuanya, bahwa orang-orang tersayang dan terdekatnya gak boleh mati. Ayah gak boleh meninggal, bunda gak boleh meninggal, eyang gak boleh meninggal, atung gak boleh meninggal, mbah gak boleh meninggal dan seterusnya.