Saya bukan penikmat nasyid atau lebih tepatnya sudah bukan penikmat lagi. Tapi kenyataan tersebut sepertinya tidak menghalangi saya untuk mengomentari beberapa hal mengenai realita nasyid saat ini.
Perkenalan awal saya dengan nasyid terjadi sekitar tahun 90an melalui nasyid melayu (atau lebih tepatnya Al Arqam) semacam Nadamurni dan The Zikr. Mulai saat itu juga aktivis dakwah di Indonesia (khususnya yang berafiliasi pada Ikhwanul Muslimin) mengembangkan genre musik baru di Indonesia yaitu nasyid yang umumnya berbentuk semacam boyband dengan alat musik minimal atau bahkan tanpa alat musik. Pelopornya antara lain Snada dan Izzatul Islam.